Pemimpin Kharismatik

Oleh   : Didi Suradi, M. Pd

Bawahan yang lebih cerdas secara akademis dibandingkan pemimpinnya akan cenderung menyepelekan setiap perintah dan kebijakan yang diambil sang pemimpin. Dengan sangat yakin bawahan ini menganggap kebijakan yang diambil pemimpin kurang memiliki bobot keilmuan ataupun sangat dangkal. Ia akan berusaha mencari segudang argumentasi ilmiah untuk membantah kebijakan ini.

Tipe bawahan seperti ini akan cenderung untuk mengambil hati si pemimpin agar percaya kepadanya. Maka sang bawahan akan berusaha sekuat tenaga untuk selalu dekat dengan pemimpinnya, atau dengan kata lain Ia akan berusaha cari muka. Di depan pemimpin bersikap baik, tetapi dibelakangnya bergerilya menjatuhkan. Sementara itu disisi lain, sang pemimpin akan selalu dibayang-bayangi oleh sosok bawahan ini. Ia akan selalu bimbang bahkan takut ketika harus mengambil sikap. Bantahan  dari bawahannya menjadi sebuah teror menakutkan. Masalah yang muncul adalah, pemimpin akan selalu merasa sungkan pada bawahannya. Kondisi ini sangat terbalik dari yang seharusnya. Lalu siapa yang salah?

Inilah alasan mengapa pemimpin harus lebih cerdas dari bawahannya. Argumentasi yang menyatakan bahwa menjadi pemimpin cukup dengan pengalaman saja ternyata tidak cukup kuat. Bawahan yang cerdas biasanya sangat peka terhadap perubahan, sedangkan pemimpin yang mengandalkan pengalaman selalu merasa nyaman dengan kondisi yang ada, sehingga enggan mencoba banyak hal baru. Inilah yang membedakan keduanya.

Dibanyak organisasi kondisi seperti ini biasa terjadi. Meskipun kehidupan oraganisasi sepertinya berlangsung dengan baik, tetapi kenyataannya penuh dengan ketegangan. Namun banyak juga bawahan yang lebih cerdas dari pemimpin, tetapi tetap merasa hormat dan sungkan pada pemimpinnya. Hal ini disebabkan kharisma yang dipancarkan dari sosok pemimpin begitu kuat. kharisma ini memunculkan kewibawaan. Kharisma akan mengubah sikap arogan bawahan menjadi sikap hormat dan patuh. Perbedaan sikap dan pandangan yang dimilikinya akan disampaikan dengan cara yang sopan dan kompromis.

Jadi, pemimpin yang tidak lebih cerdas dari bawahan, tetap bisa melanjutkan kepemimpinan dengan baik jika memiliki kharisma dan kewibawaan. Hal ini dapat diperoleh dengan cara meningkatkan rasa percaya diri dan hilangkan sikap sungkan pada bawahan. Hal lainnya adalah miliki kemauan untuk terus belajar dan peka terhadap perubahan. Wallahu’alam.

By kangdidisuradi - Jika Ingin berhasil harus berani menerima tantangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s