PERTARUNGAN FISIK VS PERTARUNGAN IDE

OLEH : DIDI SURADI, M. Pd

Saya tak ingin menyebutkan sebuah kejadian ataupun tempat secara nyata. Semua orang tahu, bahwa di negara yang kita cintai ini masih banyak masalah yang harus diselesaikan dengan cara kekerasan. Memang sepertinya cara ini masih dianggap efektif buat banyak orang, khususnya bagi orang-orang kecil. Perundingan atau musyawarah hanya dianggap buang-buang waktu saja. Orang-orang besar atau penguasa tidak mau mengalah, bahkan tidak mau mendengar ide dari orang-orang kecil.
Ketika pengusaha lalai terhadap kesejahteraan karyawan, maka perundingan tidak pernah menjadi jalan keluar. Akhirnya demonstrasi dan anarki yang jadi pilihan. Tapi apakah ini juga menjadi jalan keluar?, ternyata tidak. Yang ada hanya gelimpangan korban dan kerusakan infrastruktur. Sangat menyedihkan.
Ketika perebutan lahan yang disengketakan antara pengusaha yang dibekingi aparat dengan masyarakat penggarap lahan terjadi. Butuh waktu bertahun-tahun untuk berdiskusi, dan hasilnya orang kaya yang menang. Lagi-lagi orang kecil yang harus kecewa lalu melampiaskan kekecewaannya dengan berunjuk rasa. Tapi apakah ini berhasil? Tentu saja tidak. Malah mereka jadi korban kesemena-menaan. Sangat menyedihkan?
Apakah pemilihan kepala daerah tidak bermasalah? Ha ha ha, bangsa kita senang sekali mencari-cari masalah. Bagi pemenang pemilu jangan senang dulu, ternyata banyak pihak yang tidak senang. Protes dilakukan dijalanan dengan kekerasan. Gedung-gedung dan fasilitas umum lainnya yang jadi korban. Jalan raya di blokir, pohonan di tumbangkan, ban bekas dibakar. Apapun dijadikan korban. Sangat menyedihkan.
Jika dituliskan tentang berapa banyak peristiwa yang diselesaikan dengan kekerasan, mungkin akan menghabiskan ratusan lembar kertas. Tiga peristiwa diatas cukup buat kita merenungkan, apakah bangsa kita tidak mempunyai kemampuan untuk bermusyawarah dan menggunakan pertarungan ide dalam menyelesaikan masalah? Bukankah dahulu selalu diajarkan tentang tenggangrasa dan tepa selira? Bukankah kita diajarkan untuk menyelesaikan setiap permasalahan dengan cara musyawarah mufakat? Sampai kapan anak-anak kecil harus menyaksikan kekerasan dalam hidupnya? Bukankah kita yang dewasa ini harus menjadi contoh teladan bagi mereka?
Mulai detik ini, marilah kita bersikap cerdas. Orang-orang besar dan orang-orang kecil harus hidup berdampingan. Mari kita jadikan Indonesia sebagai bangsa yang besar. Demokrasi bukan kebebasan yang mutlak. Demokrasi bukan tanpa rasa hormat. Demokrasi bukan tanpa kasih sayang. Demokrasi bukan kumpulan caci maki. Tapi demokrasi adalah menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan. Wallahu alam.

By kangdidisuradi - Jika Ingin berhasil harus berani menerima tantangan

One comment on “PERTARUNGAN FISIK VS PERTARUNGAN IDE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s