GURU BUKAN “PENGASUH ANAK”

Oleh : Didi Suradi, M. Pd

Kisah ini berawal dari pengalaman seorang teman saya. Suatu ketika sekolah mengadakan studi lapangan. Kegiatan ini dilaksanakan di hari efektif. Berangkat pukul 07.30 wib dan kembali ke sekolah pukul 16.00 wib. Sekolah kami adalah sekolah fullday. Selesai KBM pukul 15.10 wib, setelah itu seluruh siswa melaksanakan shalat ashar berjamaah hingga pukul 16.00 wib. Jadi, kalau rombongan studi lapangan ini kembali ke sekolah pukul 16.00 wib, berarti masih ada waktu untuk shalat ashar berjamaah di sekolah. Selanjutnya siswa dapat pulang kerumah masing-masing di jemput orangtua atau ikut jemputan sekolah.

Studi lapangan kali ini dilaksanakan oleh level IX berjumlah 131 siswa dengan 6 guru pembimbing. Sementara itu, level VII dan VIII tetap belajar di sekolah seperti biasa. Tempat yang dituju adalah museum gajah dan planetarium. Singkat cerita, pelaksanaan studi lapangan berjalan dengan lancar. Semua dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana. Inti cerita ini adalah, ada salah seorang wali murid yang menghubungi guru pembimbing bahwa jika rombongan terlambat datang ke sekolah, maka anaknya diminta menunggu di sekolah karena akan dijemput. Tetapi karena rombongan datang pukul 16.00 wib, dan pada saat itu masih ada fasilitas jemputan, maka atas permintaan siswa sendiri ia akan ikut jemputan saja. Siswa ini meminta gurunya untuk menghubungi orangtuanya via handphone agar tidak usah menjemput dia ke sekolah. Sampai disini semua berjalan lancar.

Sang guru pulang ke rumah dengan perasaan lega. Iapun segera melepas lelah. Berkumpul kembali dengan suami tercinta. Oh ya, teman saya ini adalah pengantin baru. Tentunya bisa bertemu dengan suami tercinta setelah seharian berpisah adalah masa yang sangat membahagiakan. Namun kebahagiaannya berubah dengan perasaan was-was, perasaan bersalah, dan perasaan lainnya yang gak enak. Orangtua anak tadi menelpon bahwa anaknya belum sampai di rumah dan masih menunggu di sekolah. Padahal saat itu sudah pukul 19.00 wib. Apa yang terjadi?

Bu guru yang baik dan cantik ini segera menghubungi satpam sekolah dan minta bicara dengan siswa tadi. Informasi yang didapat adalah ia tidak jadi ikut jemputan karena takut ayahbundanya sudah terlanjur dalam perjalanan ke sekolah. Mencla-mencle!, Tapi okelah, namanya juga anak-anak. Barangkali dia belum mampu mengambil keputusan dengan baik. Yang sangat disayangkan adalah sikap orangtua yang seolah-olah menyalahkan gurunya. Bahasa yang digunakan sangat tidak mengenakan sang guru. Dia lupa bahwa yang dipikirkan guru bukan hanya anaknya saja, tapi juga ratusan siswa yang lain. Lagipula, bukankah sudah dijelaskan bahwa anaknya tidak perlu dijemput dan akan naik jemputan sekolah. Yang jelas salah adalah anaknya!

Saya ingin mengatakan. Tolong hormati guru, muliakan guru. Kami bukan pengasuh anak anda. Kami adalah sekelompok professional yang membantu pendidikan anak anda. Sangat tidak terhormat jika orangtua murid memarahi guru yang tidak lain adalah pendidik anaknya sendiri. Bagaimana ilmu yang di dapat bisa berkah dan bermanfaat jika orangtuanya saja tidak menghargai guru. Jika ada masalah, hendaknya diselesaikan dengan baik dan elegan. Gunakan bahasa yang baik. Memang teman saya ini tidak mempermasalahkan hal ini, tetapi sebagai teman se profesi, bagi saya ini adalah pelecehan profesi.

Saya jadi teringat pekerjaan seorang calo. Mereka berusaha mengantarkan penumpang masuk dalam bis, setelah itu mereka tinggalkan sang penumpang dan mempercayakan pada sang sopir. Terserah mau dibawa kemana, dan dengan cara apa saja. Cara selamat atau bahaya. Tapi orantua bukan calo bis! Jangan Cuma antar anak masuk ke sekolah saja, dan menyerahkan semua masalah anak pada guru. Tanggungjawab dipikul bersama dengan porsi masing-masing. Masalah kegiatan studi lapangan dipikul oleh guru, dan menjemput anak sekolah bukan tanggungjawab guru. Ingat, guru bukan pengasuh anak anda, tapi kami membantu pendidikan anak-anak anda. Dan kami adalah sekelompok professional yang mempunyai kode etik dan tugas pokok dan aksi yang tertulis dengan jelas.

Tulisan ini hanya sebagai catatan saja. Memang hanya sedikit orangtua yang bersikap seperti itu. Sebagai manusia biasa, kita punya banyak kekurangan. Dan kita harus saling mengingatkan. Tulisan ini adalah salah satunya. Semoga tidak terjadi lagi dimasa yang akan datang. Selamat hari guru, 25 Nopember 2011. Semangat terus membangun bangsa, mendidik bangsa.

By kangdidisuradi - Jika Ingin berhasil harus berani menerima tantangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s